Daily Shits, Uncategorized

“GILAK LU, YA!”

Seketika saya membentak seperti itu, tadi pagi, ketika teman-teman grup skripsi bilang “semangat Mia!”, “ayo kita pasti bisa! mangat.” dan sebagainya di grup whatsApp.

Ceritanya bermula dari semalam, Minggu, 13 Maret 2015, pesan pembimbing II masuk ke grup  kira-kira jam 7 malam.

Dear teman2 Semprop dg Dosen Pak Jahja, Nia, dan Puti, harap segera mengumpulkan proposal sampai dg bab 3, ke emailsaya*@gmail.com. Paling lambat Senin tanggal 14 Maret 2016. Jika pada tanggal tsb proposal tidak dikumpulkan, silakan ambil kelas mengulang u mata kuliah Seminar Proposal. Terima kasih.

Posisi saya saat itu sedang berada di atas truk, baru saja turun dari pendidikan di gunung Kencana, Bogor. Capek, dingin, gelap. Sampai kosan bisa jadi udah jam 11an malam, atau malahan sudah ganti Senin. Saya cuma bisa menggerutu, merengut, menggeliat frustasi dan pasrah. Kalo sempat mengulang mata kuliah semprop artinya satu semester akan terbuang sia-sia. Padahal semester ini cuma ngambil mata kuliah semprop, gaada yg lain, jadi saya nggak akan punya apa-apa lagi. Nggak bisa sidang. Nggak bisa skripsian.

Atau mungkin masalahnya adalah Jumat lalu, saat saya menemui pembimbing I untuk mengajukan proposal yang udah jalan satu bab. Dan untuk kesekian kalinya, ditolak, sama fenomena-fenomenanya. Alhasil, of course, I have to start from zero again. Benar-benar nol. Dari nyari ide. Jadilah pagi-pagi hari Senin tadi saya ngegas “lu gila” sama salah satu teman yg entah ‘sangat optimis’ atau udah ‘sakit’ mendorong kita semua dengan kalimat motivasi “gue yakin kok kalian pasti bisa.”

Tersisa 26 jam sebelum deadline. DEAD. LINE. Tiga bab.

Jadilah semalaman saya merasakan komplikasi antara kepanikan, kepegalan, dan ketidak-bisa-tiduran. Pingin searching ideas pun otak udah bebeliut kaya benang kusut. Ide tuh rasanya bergulung-gulung, saling lelarian, saling menimpa. Tidur juga rasanya nggak tidur, pas ketiduran tetap mimpi sedang ngerjain semprop.

Untung paginya (semalam tidur jam 4) tepat pukul 8 saya sudah duduk manis di perpus bareng Indira dan Anya. Mereka memberikan banyak ide-ide yang masih mentah. Tapi daripada mengharapkan ide-ide saya yg semalaman gak mekar-mekar, yasudah saya ambil saja, nggak ada pilihan lain selain mulai mengerjakan sesuatu. Apa saja lah. Yang penting ada progress.

Dengan berusaha tetap tenang, dengan kepanikan dan keputus-asaan, rasa ingin menyerah di tengah, serta ketiduran-ketiduran yang singkat (masih: ngerjain semprop di dalam mimpi) tapi alhamdulillah! Siapa sangka! Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang. You don’t say. The power of kepepet. Dream, believe and make it happen. Barusan, hanya terlambat tujuh detik. Pukul 00.07 saya sudah kirim proposalnya ke bu Nia.

Gilak! maka percayalah kawan, tidak ada yang tidak mungkin.

 

Uncategorized

In some ways, one’s own family is the most oblivious.

But what’s so important about knowing? In the end, what helps you overcome obstacles isn’t brains, but someone who will take your hand and won’t let you go.

In the end that’s family.

Even for heroes, the people they go back to in the end is family.

The pain inflicted upon you outside the home and the scars inflicted on you by life itself and even the pain inflicted on you by family, the people who will hold you and stand by you until the end….. in the end, that’s family.

– DokSeon (Replay 1988)

Uncategorized

I give up.

We have only one month left, I set a lot and alot more scenario in my head. But time starts counting down, it gets lesser and lesser days, when I still can’t caught any courage inside me. Let’s just keep being friends.

I love you.

This kind of words may be burned forever, because the Earth loves his Sky. It’s unchangeable fact and an undeceitable fate that I have to endure. It hurts. A lot. But I still want to see you. Laughing. Loving. I see myself being stupid as I love you, but I don’t want to forget, because I never want to blame my heart as being in love with you. Cause I want to prove that it’s not a fault to love you.

March. 1st, 2012

Uncategorized

Screenshot_2016-01-04-00-21-36_1

The journey is so far, I can’t figure where I am now and where this train is heading to. Here I am, inhaling the smell of morning cup coffee and a slight of village air, just sitting here on the couch number 13D-the last number, seeing backward. To the place I’m leaving, the place I conciously left. My mind wonders if you still there waiting for me to come back home and say “my journey’s done. I’m home.” or if the home I left that day has been left too, cold and empty. I sighed for the nth time, and take a sip. That’s fine either way.

 

Adventure, Daily Shits, Experience, Uncategorized

Slamet dari Gunung Slamet

Hi, sebelum memulai postingan ini saya mau ketawa dulu. Boleh ya. Hahahahahahahahahahahahahahaha. Kenapa? Karena kebetulan kali ini saya merasa benar-benar konyol. Pada hari Selasa lalu, saya dan 6 rekan lainnya sepakat untuk berangkat ke Purbalingga dan mendaki gunung Slamet, hanya dengan persiapan lebih kurang 1 minggu. Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa tengah dan gunung tertinggi kedua di Pulau jawa. Dengan personil yang rata-rata perempuan, dua diantaranya bukan mapala, dan cuaca yang kurang mendukung, sebetulnya perjalanan ini sedikit mengkhawatirkan. Maka dari itu rupanya siang hari sebelum berangkat saya sempat menggalaukan kematian dan usia saya yang muda dan menulis surat wasiat kalau-kalau perjalanan ini tidak mengantarkan saya kembali ke kos-kosan. Surat tersebut saya posting terjadwal pada tanggal 22 Desember nanti. Hahaha. Silahkan baca kalau berminat. Sebuah surat dari saya yang tiba-tiba takut kematian.

IMG_9808
Nisa, Ijot, Jesyia, Nina, Mia, Rege, Siti @kaki gn Slamet, desa Bambangan

Continue reading “Slamet dari Gunung Slamet”